Desa Watuaji telah dimasuki oleh para wali dan syeh
pada tahun 1.465M. Para Wali dan Syeh selain bertujuan untuk menyebarkan agama
Islam ia juga telah merintis berdirinya Masjid. Pada saat itu Sunan Kalijaga
bertemu dengan Syeh Maulana Ahmad Husein di pedepokan dimana pada saat itu
mereka melakukan musyawarah dengan makanan yang telah disajikan yaitu Sate.
Tusuk sate kemudian ditancapkan di tanah, namun dengan tidak terduga tusuk sate
berubah menjadi sebatang bamboo yang tumbuh dan disebutlah dengan Bambu Amyang.
Dengan adanya kejadian tersebut Sunan Kalijaga atas perintah dari
kawan-kawannya untuk datang dengan segera ke Demak. Sehingga disudahilah
pertemuan tersebut yang diakhiri oleh bersalaman atau berjabat tangan, lalu
dinamailah pedepokan tersebut oleh Syeh Maulana Ahmad Husein yaitu Pedepokan
Salam.
Dalam perjalanan menuju utara, Syeh
Maulana Ahmad Husein bertemu dengan seorang wanita tua,
Syeh Maulana : siapa namamu?
Nyai Rodiyah : saya Nyai Rodiyah, dan saya
sedang sakit, bisakah kamu mengobatiku?
Setelah Syeh Maulana Ahmad Husain mengobatinya, ia
memberikan tenger menanam kayu kudo lalu setelah itu syeh Maulana meninggalkan
tempat itu selama tiga bulan dan menjanjikan datang dikemudian hari untuk
menghampiri Nyai Rodiyah. Namun tidak disangka setelah Syeh Maulan datang
ternyata Nyai Rodiyah sudah tiada. Kemudian tempat tersebut diberi nama Balai
Romo.
Sedangkan Syeh Maulana Ahmad Husain
menetap di Desa Watuaji sampai ia wafat dan dimakamkan di Desa Watuaji. Masyarakat
sekitar di Desa Watuaji selalu Melaksanakan Khol sebagai penghormatan kepada Syeh
Maulana Ahmad Husain yang dirayakan pada hari Senin di akhir bulan Syafar yang
juga pada saat itu merupakan hari wafatnya. Dengan demikian masyarakan Desa
Watuaji telah mempercayai keberkahan yang diberikan oleh para Wali dan para
Syeh di Desa, telah membuat desa Watuaji menjadikan desa yang aman, tentram dan
makmur. Dan terwujudlah masyarakat yang ber Ahlakul Karimah.
Watu Gebyok
Watu Lawang
Watu Soko
Watu tatal










