Minggu, 23 Agustus 2015

DESA WISATA KOTA BATU




Desa Watuaji telah dimasuki oleh para wali dan syeh pada tahun 1.465M. Para Wali dan Syeh selain bertujuan untuk menyebarkan agama Islam ia juga telah merintis berdirinya Masjid. Pada saat itu Sunan Kalijaga bertemu dengan Syeh Maulana Ahmad Husein di pedepokan dimana pada saat itu mereka melakukan musyawarah dengan makanan yang telah disajikan yaitu Sate. Tusuk sate kemudian ditancapkan di tanah, namun dengan tidak terduga tusuk sate berubah menjadi sebatang bamboo yang tumbuh dan disebutlah dengan Bambu Amyang. Dengan adanya kejadian tersebut Sunan Kalijaga atas perintah dari kawan-kawannya untuk datang dengan segera ke Demak. Sehingga disudahilah pertemuan tersebut yang diakhiri oleh bersalaman atau berjabat tangan, lalu dinamailah pedepokan tersebut oleh Syeh Maulana Ahmad Husein yaitu Pedepokan Salam.

            Dalam perjalanan menuju utara, Syeh Maulana Ahmad Husein bertemu dengan seorang wanita tua,

Syeh Maulana            : siapa namamu?

Nyai Rodiyah            : saya Nyai Rodiyah, dan saya sedang sakit, bisakah kamu mengobatiku?

Setelah Syeh Maulana Ahmad Husain mengobatinya, ia memberikan tenger menanam kayu kudo lalu setelah itu syeh Maulana meninggalkan tempat itu selama tiga bulan dan menjanjikan datang dikemudian hari untuk menghampiri Nyai Rodiyah. Namun tidak disangka setelah Syeh Maulan datang ternyata Nyai Rodiyah sudah tiada. Kemudian tempat tersebut diberi nama Balai Romo.

            Sedangkan Syeh Maulana Ahmad Husain menetap di Desa Watuaji sampai ia wafat dan dimakamkan di Desa Watuaji. Masyarakat sekitar di Desa Watuaji selalu Melaksanakan Khol sebagai penghormatan kepada Syeh Maulana Ahmad Husain yang dirayakan pada hari Senin di akhir bulan Syafar yang juga pada saat itu merupakan hari wafatnya. Dengan demikian masyarakan Desa Watuaji telah mempercayai keberkahan yang diberikan oleh para Wali dan para Syeh di Desa, telah membuat desa Watuaji menjadikan desa yang aman, tentram dan makmur. Dan terwujudlah masyarakat yang ber Ahlakul Karimah.


Watu Gebyok

 Watu Lawang

 Watu Soko

 Watu tatal

MATA PENCAHARIAN



Selain bertani dan berladang mata pencaharian penduduk setempat adalah berkebun kapuk randu (Ceiba pentandra), petani sawahdan budidaya sengon laut (Paraserianthes falcataria). Namun selain itu di dalam desa ini terdapat usaha kerajinan mebel dan Usaha Menengah Kecil dan Mikro (UMKM) yang dihasilkan juga oleh masyarakat di desa, seperti Ceriping, Marneng, Kerupuk Terasi, Kerupuk Beras, dan Kopi. Usaha kecil-kecilan yang bekerja sama dengan empat desa yaitu, Desa Damarwulan, Desa Tempur, Desa Kunir dan Desa Watuaji sehingga usaha tersebut diberi nama “DAPUR KUWAT”.



Merk makanan ringan yaitu Kripik Pisang hasil dari UMKM Desa Watuaji, Kecamatan Keling, Jepara. makananya terbuat dari buah pisang yang dipotong-potong lalu digoreng hingga kering.


Kerupuk Ringan yang terbuat dari tepung tapioka yang dijemur lalu dikemas. Sebelum dimakan, kerupuk ini harus di goreng dahulu.



Kerupuk yang terbuat dari campuran terasi yang sangat laku di Desa Watuaji



Marneng yang terbuat dari jagung



SEJARAH DESA




Desa Watuaji telah dimasuki oleh para wali dan syeh pada tahun 1.465M. Para Wali dan Syeh selain bertujuan untuk menyebarkan agama Islam ia juga telah merintis berdirinya Masjid. Pada saat itu Sunan Kalijaga bertemu dengan Syeh Maulana Ahmad Husein di pedepokan dimana pada saat itu mereka melakukan musyawarah dengan makanan yang telah disajikan yaitu Sate. Tusuk sate kemudian ditancapkan di tanah, namun dengan tidak terduga tusuk sate berubah menjadi sebatang bamboo yang tumbuh dan disebutlah dengan Bambu Amyang. Dengan adanya kejadian tersebut Sunan Kalijaga atas perintah dari kawan-kawannya untuk datang dengan segera ke Demak. Sehingga disudahilah pertemuan tersebut yang diakhiri oleh bersalaman atau berjabat tangan, lalu dinamailah pedepokan tersebut oleh Syeh Maulana Ahmad Husein yaitu Pedepokan Salam.

            Dalam perjalanan menuju utara, Syeh Maulana Ahmad Husein bertemu dengan seorang wanita tua,

Syeh Maulana            : siapa namamu?

Nyai Rodiyah             : saya Nyai Rodiyah, dan saya sedang sakit, bisakah kamu mengobatiku?

Setelah Syeh Maulana Ahmad Husain mengobatinya, ia memberikan tenger menanam kayu kudo lalu setelah itu syeh Maulana meninggalkan tempat itu selama tiga bulan dan menjanjikan datang dikemudian hari untuk menghampiri Nyai Rodiyah. Namun tidak disangka setelah Syeh Maulan datang ternyata Nyai Rodiyah sudah tiada. Kemudian tempat tersebut diberi nama Balai Romo.

            Sedangkan Syeh Maulana Ahmad Husain menetap di Desa Watuaji sampai ia wafat dan dimakamkan di Desa Watuaji. Masyarakat sekitar di Desa Watuaji selalu Melaksanakan Khol sebagai penghormatan kepada Syeh Maulana Ahmad Husain yang dirayakan pada hari Senin di akhir bulan Syafar yang juga pada saat itu merupakan hari wafatnya. Dengan demikian masyarakan Desa Watuaji telah mempercayai keberkahan yang diberikan oleh para Wali dan para Syeh di Desa, telah membuat desa Watuaji menjadikan desa yang aman, tentram dan makmur. Dan terwujudlah masyarakat yang ber Ahlakul Karimah.


Makam Syeh Maulana Ahmad Husain



Makam Nyai Rodiyah