Sabtu, 05 September 2015

PROFIL DESA WATUAJI




Pemetaan Administratif dan Demografi Desa Watuaji
Wilayah Kecamatan Keling yang merupakan salah satu dari 16 kecamatan di Kabupaten Jepara berbatasan dengan : Sebelah Barat dengan Kecamatan Kembang, Sebelah Utara dengan Kecamatan Donorojo dan Laut Jawa, Sebelah Timur Kabupaten Pati dan Sebelah Selatan dengan Gunung Muria. Jarak dari Ibukota Kabupaten ke Kecamatan Keling 36 Km, dengan ketinggian antara 0 s/d 1.031 meter dari permukaan laut. Kecamatan Keling luas wilayahnya 12.311.588 Ha atau 123,12 km2, dengan jumlah penduduk laki-laki 29.327 dan perempuan 29.882 jiwa dan mempunyai 12 desa. 
Desa Watuaji terdapat 6 dusun yang terdiri dari 4 Rukun warga (RW) dan 16 Rukun tetangga (RT). Jumlah penduduk 3.227 jiwa terdiri dari 1.583 jiwa Laki-laki dan 1.644 jiwa Perempuan, dengan jumlah 1.070 kk, terdiri dari laki-laki 912 kk dan perempuan 158 kk Dengan luas 6.558,813 ha.
Untuk sarana pendidikan terdapat 3 unit PAUD, 3 unit TK, 2 unit SD, 2 unit MI, 1 unit SMP/Mts, dan 1 unit SMK.

Bidang Kesehatan terdapat Prasarana kesehatan - unit Puskesmas, - unit Puskesmas pembantu, 5 unit Posyandu,  1 unit Polides, - orang Dokter Umum, 1 orang Bidan, 2 orang Dukun Bayi,  8 orang Tukang Pijet dan - orang Tukang Gigi.
            Tanaman yang dikembangkan di desa ini adalah Padi, Jagung dan Ketela Pohon, Kacang Tanah, Durian. Rambutan, Pisang, Sengon Laut, Kopi, Cengkeh, Kelapa, Kakao, Jahe. Sedangkan ternak yang dikembangkan di desa tersebut diantaranya Sapi, Kambing/domba, Ayam, Bebek
(Hingga agustus 2015)


Balai Desa Watuaji


Area Persawahan Padi Desa Watuaji
Area Perkebunan Jagung Desa Watuaji


Minggu, 23 Agustus 2015

DESA WISATA KOTA BATU




Desa Watuaji telah dimasuki oleh para wali dan syeh pada tahun 1.465M. Para Wali dan Syeh selain bertujuan untuk menyebarkan agama Islam ia juga telah merintis berdirinya Masjid. Pada saat itu Sunan Kalijaga bertemu dengan Syeh Maulana Ahmad Husein di pedepokan dimana pada saat itu mereka melakukan musyawarah dengan makanan yang telah disajikan yaitu Sate. Tusuk sate kemudian ditancapkan di tanah, namun dengan tidak terduga tusuk sate berubah menjadi sebatang bamboo yang tumbuh dan disebutlah dengan Bambu Amyang. Dengan adanya kejadian tersebut Sunan Kalijaga atas perintah dari kawan-kawannya untuk datang dengan segera ke Demak. Sehingga disudahilah pertemuan tersebut yang diakhiri oleh bersalaman atau berjabat tangan, lalu dinamailah pedepokan tersebut oleh Syeh Maulana Ahmad Husein yaitu Pedepokan Salam.

            Dalam perjalanan menuju utara, Syeh Maulana Ahmad Husein bertemu dengan seorang wanita tua,

Syeh Maulana            : siapa namamu?

Nyai Rodiyah            : saya Nyai Rodiyah, dan saya sedang sakit, bisakah kamu mengobatiku?

Setelah Syeh Maulana Ahmad Husain mengobatinya, ia memberikan tenger menanam kayu kudo lalu setelah itu syeh Maulana meninggalkan tempat itu selama tiga bulan dan menjanjikan datang dikemudian hari untuk menghampiri Nyai Rodiyah. Namun tidak disangka setelah Syeh Maulan datang ternyata Nyai Rodiyah sudah tiada. Kemudian tempat tersebut diberi nama Balai Romo.

            Sedangkan Syeh Maulana Ahmad Husain menetap di Desa Watuaji sampai ia wafat dan dimakamkan di Desa Watuaji. Masyarakat sekitar di Desa Watuaji selalu Melaksanakan Khol sebagai penghormatan kepada Syeh Maulana Ahmad Husain yang dirayakan pada hari Senin di akhir bulan Syafar yang juga pada saat itu merupakan hari wafatnya. Dengan demikian masyarakan Desa Watuaji telah mempercayai keberkahan yang diberikan oleh para Wali dan para Syeh di Desa, telah membuat desa Watuaji menjadikan desa yang aman, tentram dan makmur. Dan terwujudlah masyarakat yang ber Ahlakul Karimah.


Watu Gebyok

 Watu Lawang

 Watu Soko

 Watu tatal